Alopecia

ISTILAH 

Istilah alopecia (Latin), berasal dari bahasa Yunani λωπεκία (alÅ�pekia), yang secara bebas diartikan sebagai "rubah-kudis", berasal dari á¼€λÏ�πηξ (alopex = rubah), +-ia, (a  digunakan sebagai akhiran dalam bahasa Yunani, dan "esp" digunakan dalam penamaan penyakit, yang secara bebas berarti : 

DEFINISI 

Alopecia atau rambut rontok adalah deskripsi medis hilangnya rambut dari kepala atau badan, kadang-kadang diartikan sebagai tingkat kebotakan.
Siklus Folikel rambut Masing-masing folikel rambut selalu berjalan melalui empat tahap : 

  1. Pertumbuhan (Anagen),
  2. Involusi/Regresi (Catagen),
  3. Istirahat (Telogen),
  4. Shedding/Pelepasan (Eksogen),

Banyak faktor pertumbuhan dan reseptor faktor pertumbuhan yang berperan dalam  sangat penting untuk siklus pertumbuhan folikel rambut.

Fase Anagen (Pertumbuhan) 

Pada tahap ini, ada proliferasi dari keratinosit (sel keratin) folikel rambut / Stem cells folikel rambut di daerah bulge
Molekul faktor pertumbuhan yang memiliki peran penting dalam siklus pertumbuhan  folikel rambut  adalah : 

Molekul faktor pertumbuhan tersebut diproduksi oleh papila dermal folikel rambut. Reseptor faktor pertumbuhan mereka ditemukan terutama di sel-sel matriks di atasnya. Persentase folikel dalam tahap anagen normal = 85 - 95% dari folikel kulit kepala pada suatu waktu. Pada fase ini rambut memiliki panjang maksimal dalam 1000 hari - 6 tahun 

Fase Catagen (Involusi) 

Pada tahap ini, ada kematian sel yang terprogram secara alamiah (apoptosis) dari sel folikel rambut : 

Pada tahap ini , dermal papila mengalami kehancuran dan bergerak ke atas, dan berubah menjadi istirahat di bawah daerah bulge folikel rambut. Beberapa folikel rambut juga dihancurkan oleh proses infiltrasi sel inflamasi, dalam suatu proses fisiologis tampaknya merupakan  proses "program penghapusan organ." Organ yang diprogram mengalami penghapusan dapat menjelaskan bentuk-bentuk tertentu alopesia permanen. Persentase folikel rambut dalam tahap catagen biasanya = 3 - 4% dari folikel rambut kulit kepala pada suatu waktu, berlangsung selama 1-2 minggu. 

Fase Telogen (Istirahat) 

Pada tahap ini, mulai dibentuk batang rambut yang baru , dan segera masuk ke fase istirahat. Tahap Telogen biasanya berlangsung selama 2-3 bulan sebelum memasuki kembali ke fase anagen , dan siklus pertumbuhan rambut tersebut diulang-ulang. Persentase folikel rambut dalam tahap telogen = 5 - 15% dari folikel rambut kulit kepala pada suatu waktu.  

Tahap Eksogen adalah tahap dimana batang rambut  yang lama mulai lepas dari folikel rambut, biasanya dijumpai rambut yang rontok pada saat menyisir rambut atau keramas. Kebanyakan orang kehilangan 50-150 rambut kulit kepala/hari. Peningkatan dalam persentase folikel rambut kulit kepala dalam tahap telogen yang berlebihan disebut telogen effluvium. 

JENIS JENIS ALOPECIA

Setiap jenis Alopecia mempunyai faktor risiko sendiri sendiri, sehingga pengobatan Alopecia tidak akan berhasil tanpa mengendalikan faktor risikonya.

Suatu contoh, Faktor risiko Alopecia Diffusa adalah :

  1. Faktor-faktor nutrisi : proses penurunan berat badan yang terlalu cepat, kekurangan kalori/protein, kekurangan zat besi kronis, kelebihan vitamin A.
  2. Faktor-faktor penyakit radang kulit kepala: Seborrheic dermatitis, erythroderma.
  3. Faktor-faktor endokrin : Melahirkan, Keguguran, Aborsi, Hypo/Hipertiroidisme, penghentian obat estrogen.
  4. Faktor Stres :  penyakit demam , penyakit katabolik, tindakan bedah mayor/Trauma, Stres psikologis akut/kronis.
  5. Faktor-faktor keracunan : thalium, merkuri, arsenik.
  6. Faktor-faktor Obat : b-blocker, antikoagulan,  kaptopril, obat penurun kolesterol, colchicine, sitostatik, interferrons, lithium, penisilamin, retinoid, selective serotonin reuptake inhibitor, valproate.

Faktor-faktor hormonal yang berperan dalam pengendalian pertumbuhan rambut :

  1. Estrogens.
  2. Thyroid hormon.
  3. Glukokortikoid.
  4. Retinoid.
  5. Prolaktin.
  6. Pertumbuhan hormon.
  7. Testosteron & dihidrotestosteron (DHT).
  8. Progesteron.

Faktor-faktor sistem saraf  yang berperan dalam pengendalian pertumbuhan rambut : 
Pada kulit kepala terdapat sel-sel yang memproduksi Isoenzim 5a-reduktase (tipe I dan II) yang mengkatalisis konversi testosteron menjadi hormon yang daya kerjanya lebih kuat, yaitu dihidrotestosteron (DHT). 

  1. Tipe I enzim ini ditemukan terutama di kelenjar sebaceous.
  2. Tipe II enzim yang ditemukan dalam folikel rambut. 

Daerah bulge folikel rambut  kaya akan sel Merkel dan ujung saraf , sel-sel yang menghasilkan faktor neurosecretory dari saraf yang berperan dalam pertumbuhan rambut atau neuropeptida lain yang dapat mengontrol proliferasi folikel rambut. Beberapa neurotrophins ada yang menghambat produksi molekul faktor pertumbuhan rambut dan reseptor faktor pertumbuhan rambut , mereka ditemukan dalam folikel rambut selama tahap catagen. Peptida lain, seperti substansi P dan kortikotropin, yang juga diproduksi di kulit, dan zat neuropeptide-depleting , seperti capsaicin, mempengaruhi permulaan fase  anagen . Keadaan yang stabil/konstan dan normal dari proses  renovasi sistem persarafan ini terjadi di seluruh folikel rambut yang normal siklus dan gangguan terhadap keadaan yang stabil/konstan dan normal  tersebut akan menyebabkan alopecia.

Patobiologi dari gangguan pertumbuhan rambut disebabkan oleh beberapa mekanisme: 

Prinsip diet terhadap alopecia adalah :

  1. Pencegahan unsur gizi berlebihan.
  2. Pencegahan kekurangan unsur gizi.
  3. Pencegahan penyerapan unsur gizi secara cepat di usus.
  4. Pencegahan proses metabolik (sehingga menggangu keseimbangan normal dari hormon, enzim, kepekaan reseptor, faktor Pertumbuhan).
  5. Pencegahan terhadap pola pemilihan makanan yang dapat menimbulkan proses peradangan/inflamasi (karbohidrat rantai pendek/cepat serap/indeks glikemik tinggi/meningkatkan trigliserida atau asam lemak bebas secara cepat, makanan yang merangsang pelepasan radikal bebas , serta kandungan lemak transfat dan lemak jenuh yang tinggi, dan/atau makanan yang memberi asupan kolonisasi bakteri P. Acnes dan S. aureus dengan cepat) atau makanan yang memperberat proses alergi, karena menimbulkan:
    • Insuline Resistance Syndromes.
    • Radikal bebas.
    • Glycation dan Hipertrigliserida.
    • Alergi/hipersensitivitas.

KEPUSTAKAAN



Dipublikasikan di http://klinikdrsuburprajitno.com/index.php?p=news&action=shownews&pid=4 pada tanggal 27 Januari 2017